Saya kaget dengan desa wisata pentigsari ini... Disini hanya sebuah desa. Tanpa objek wisata seperti kita di sumbar atau di sawahlunto. Jika disawahlunto ada Museum Gudang Ransum, Info Box, Lubang Mbah Suro, Museum Tambang, Museum Kereta dan lain sebagainya... disini tidaklah ada objek tujuan wisata nya selain menawarkan suasana desa dan aktifitas yang dilakukan oleh para tamu di desa ini.


Tanpa objek wisata yang ada di desa ini tp mampu menghasilkan perputaran uang sebesar (kalo saya gak salah..) 2,5 Milyar dalam 1 tahun dari kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Dasyat...!!

 Desa Wisata yang digawangi pembinaan dan pengelolaan oleh pak Doto Yogantoro ini mampu mengemas suasana desa menjadi potensi pendapatan masyarakat. Mampukah kita setidaknya mendekati kesuksesan mereka kalaupun tidak bisa disetarakan dengan desa penting sari ini..?

Malam ini kami berlomba-lomba mencuri ilmu dari pak doto sebagai narasumber yang menceritakan bagaimana beliau mengelola desa wisata pentingsari. Saat baru aja desa ini bangkit dan mendapatkan juara dala lomba desa wisata pada tahun 2009, eh pada tahun 2010 gunung merapi meletus dan warga desa inipun harus mengungsi selama 2 bulan karna terkenaa semburan debu gunung merapi.

 Tapi semangat tak boleh padam, ucap beliau. Setelah merapi dinyatakan aman, warga kembali ke desa dan memulai untuk menata kembali desa wisata nya. perlahan tapi pasti.. akhirnya pentingsari mulai bangkit dan kembali menjadi kunjungan wisata.


Malam ini, terjalin keakraban antara Asosiasi Homestay Sawahlunto dengan Pengelola Desa Wisata Pentingsari, Umbulharjo, Sleman. Banyak ilmu yang kami dapatkan disini. Dan butuh proses yang tak mudah. Tapi berkaca dari desa Pentingsari, mereka mengkesampingkan ego masing2 warga nya demi kemajuan kampungnya sendiri. Mampukah kita warga Sawahlunto saling berjabat tangan tanpa harus sikut menyikut dan jatuh menjatuhkan demi mencapai kesejahteraan dan kemajuan kita bersama? Hanya kita masing-masinglah yang mampu menjawaab nya...
   







Setelah menikmati sore yang diguyur hujan dan menikmati minuman teh dan kopi hangat, kami lanjut melakukan aktifitas lainnya. Tapi sebelum itu, satu hal yang kami semua sukai dari jamuan welcome drink ini adalah aroma dan rasa teh yang ada di desa ini begitu wangi dan khas... enak dan menyejukkan. Membuat rasa lelah kami hilang, saya sendiri lupa nama teh nya.. tapi teh ini begitu nikmat...


Kegiatan ini cukup unik. Dan ini cukup berpotensi menambah penghasilan anggota desa wisata yang mengelolanya. Ibu-ibu homestay sawahlunto ini sedang belajar membuat wayang dari bahan jerami.

Di desa pentingsari, paket ini berharga Rp. 10.000 per orang. Bayangin aja kalo dalam satu rombongan terdapat 50 orang peserta..? 


bener2 contoh yang bagus dalam pengelolaan desa wisata dan meningkatkan ekonomi masyarakat.. mampukah kita..? mari kita jawab bersama...


Ini hasil yang gak bagusnya.. hehehehe. karna baru belajar rasanya sih wajar aja blom keliatan bentuknya. Tapi jika sudah terlatih, akan bener-bener berbentuk wayang jerami.


Apapun hasilnya.. kami cukup bahagia...





Akhirnya kami tiba di jogja setelah melakukan transit di Batam. Di Jogja kami telah disambut oleh Pak Yusup Sudadi yang kami panggil dengan Si Mbah-nya pengelolaan dan pengembangan potensi wisaa pedesaan dan Pak Doto Yogantoro yang merupakan pakarnya pengelolaan desa wisata sekaligus sebagai motivator dalam berbaagai even pengembangan potensi desa wisata dan homestay.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari bandara Adi Sucipto menuju arah gunung merapi, akhirnya kami tida di Desa wisata Pentingsari Umbulharjo Cangkringan Sleman. Setelah pembagian rumah homestay, akhirnya saya diinapkan di Rosella Homestay pemiliknya adalah pak Hartono. Beliau adalah wiraswasta yang bergerak di bidang desain taman dan dekorasi halaman. Sesuai dengan bidangnya, par hartono ini mendesain dan membangun homestay miliknya sendiri dan sekaligus membuat wahana2 permainan dan hiburan di sekitar homestaynya.

Berikut ini adalah suasana disekitar homestay yang kami tempati. Asosiasi Homestay Sawahlunto bersiap untuk meenimba ilmunya yang pertama di sebuah desa kecil tanpa objek wisata...