Homestay Lembah Segar Kota dan Muaro Kalaban

Klik Gambar Homestay untuk mengetahui suasana, layanan dan bentuk kamar yang tersedia di Homestay Wilayah Lembah Segar Kota dan Wilayah Muaro Kalaban

Sawahlunto Berpotensi Menjadi Kota Pusaka

Kekayaan sejarah yang dimiliki setiap daerah, merupakan roh utama hadirnya sebuah kota pusaka, Sawah­lunto salah satunya. Untuk menjaga potensi kekayaan sejarah tersebut, dibutuhkan kreati­fitas dan keikhlasan.

History of heritage building in Sawahlunto

Sawahlunto coal mines opening in 1891 is the most important asset for the Dutch colonial governance due to high world demand for coal as an energy source in the century the invention of the steam engine. Moreover Sawahlunto reserve coal deposits estimated at 205 million ton figure. Coal reserves that are spread among regions Parambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padangsibuak, Village Tower, Cape Ampalu

05 Februari 2016

OMA Homestay Binaan Asosiasi Homestay Sawahlunto Sukses di Tingkat ASEAN

Kali ini kami ingin bercerita tentang Oma Homestay, yang mewakili Sumbar sekaligus penerima penghargaan pada ASEAN Homestay Award 2016-2018 yang diadakan di Filipina tanggal 18-22 Januari 2016 yang lalu. Ibu Elfanis yang akrab di sapa bu Pong adalah salah satu anggota binaan dari ASOSIASI HOMESTAY SAWAHLUNTO yang telah merintis dan membina masyarakat Kota Sawahlunto agar bergerak di bidang usaha pariwisata dan menggerakan perekonomian masyarakat sekaligus mendukung VISI dan MISI Kota Sawahlunto Menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya Tahun 2020.

Usaha dan kegigihan Ibu Pong dalam mengelola homestay kali ini berbuah manis sekaligus mengharumkan nama Propinsi Sumatera Barat khususnya Kota Sawahlunto. Bagaimana tidak, dari sekian banyak homestay yang ada di Indonesia, OMA Homestay terpilih mewakili Indonesia ke Penghargaan Homestay tingkat ASEAN. Sebuah kebanggan tersendiri bagi kami dari ASOSIASI HOMESTAY SAWAHLUNTO dimana anggota kami berhasil meraih penghargaan di tingkat ASEAN   

Keua Asosiasi Homestay Sawahlunto, Ibu Kamsri Benty mengatakan "OMA Homestay adalah salah satu anggota binaan Asosiasi Homestay Sawahlunto yang cukup pesat dalam penataan dan perbaikan fasilitas untuk tamu. Selain itu, jumlah kunjungan tamu baik dari pemesanan offline melalui sekretariat maupun melalui online di traveloka dan bookingdotcom juga sangat bagus, maka saya rasa sangat layak kita memberikan penghargaan tersebut kepada OMA Homestay"

"Dengan adanya penghargaan yang diterima OMA Homestay ini, kami berharap kedepannya akan tercipta daya saing positif bagi anggota homestay lainnya untuk meningkatkan pelayanan, keramahan, kebersihan dan kenyamanan di homestay tersebut. Sehingga tamu benar-benar merasa nyaman dan merasa sedang berlibur di rumah keluarga sendiri. Tidak ada homestay 'anak emas' dalam asosiasi, semua dianggap sama." lanjut ibu tiga anak ini

Sebagai penutup, kami ucapkan selamat sekali lagi kepada OMA Homestay.  Bagi Anda yang ingin berwisata ke Sawahlunto dan menginap di OMA Homestay dapat menghubungi nomor Bu Elfanis di 081267294275 atau melalui Asosiasi Homestay Sawahlunto di nomor 081374047179 / 0754-61017. Mari rasakan kehangatan keluarga homestay selama anda menikmati liburan di kota sawahlunto

Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : Februari 05, 2016

04 Februari 2016

Oma Homestay Sawahlunto Raih ASEAN Homestay Award di Manila

Oma Homestay Sawahlunto berhasil meraih penghargaan bergengsi pada ajang “ASEAN Homestay Award 2016-2018” yang diselenggarkan ASEAN Tourism Forum (ATF) di Manila, Philipina, pada pekan silam (18-22/1/2016).

Oma Homestay merupakan pemenang seleksi nasional yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata RI untuk diajukan sebagai nominator ketiga dari Indonesia yang meraih ASEAN Homestay Award setelah pemuncaknya diperoleh Omah Tembi Homestay dari Tembi Timbulharjo, Bantul Yogjakarta, disusul nominator kedua Acacia Dien Homestay dari Batur Banjarnegara, Jateng. Penerimaan award itu langsung di dampingi Menteri Pariwisata RI Arief Yahya.

Sedangkan nominasi keempat dan kelima diraih Panglipuran homestay dari Kabupaten Bangli, Bali. Dan Sudirman 12 Homestay dari Muntok, Bangka Barat, Babel. Dengan berkibarnya lima nominator di kelas ASEAN Homestay Standard yang di kompetisikan di Indonesia itu, maka nama Sawahlunto sudah tercatat sebagai pengelola industri kreatif homestay (rumah tinggal) murah bagi kalangan wisatawan di ASEAN. Hal ini tidak terlepas dari peran dan pembinaan yang dilakukan Kementerian
Pariwisata Republik Indonesia.

Penghargaan itu diterima langsung pemilik homestay Daud Subroto (Omah Tembi), Allif Faozi (Acacia Dieng), Elfanis pemilik (Oma Homestay), I Nengah Moneng (Panglipuran Homestay), dan Supeni (Sudirman 12 Homestay). Disamping itu juga ada 5 nominator pemenang ASEAN Green Hotel yang diberangkatkan Kementerian Pariwisata ke Manila untuk menerima penghargaan internasional dari Pemerintah Pilipina melalui Menteri Pariwisata Pilipina Ramon R.Jimenez,JR.

Sebagaimana dirilis dari Kementerian Pariwisata Pilipina (Department of Torism Philippines) menyebutkan, ajang penghargaan yang digelar sangat meriah di Mindanao Ballroom of Sofitel Philppine Plaza, CCP Complex, Roxas Boulevard, Pasay City itu menampilkan berbagai penghargaan terhadap pemenang kompetisi yang di ikuti seluruh negara-negara anggota ASEAN seperti, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Brunai, Vietnam, Kamboja, Singapura, Laos, dan Burma. Katagori peraih award yang di kompetisikan adalah Green Hotel, Homestay, Spa Services, Public Toilet, Clear Tourism City, dan Tourism Security and Safety Guedelines.

Ketua Asosisasi Homestay Sawahlunto Hj.Kamsri Benti yang dihubungi GoSumbar.com, Rabu (3/2/2016), mengatakan, meski dia tidak ikut mendampingi Oma Homestay menerima ASEAN Homestay Award di Manila, Pilipina, dia bangga nama homestay Sawahlunto sudah tercatat di forum regional negara-negara anggota ASEAN.

“Sebagai pimpinan asosiasi saya bangga. Penghargaan itu diraih tidak mudah, melainkan berkat kerja keras dan keseriusan dalam mengelola usaha kreatif homestay untuk mendukung industri wisata di kota wisata tambang ini.

"Saya sangat mengapresiasi Ibu Pong pemilik Oma Homestay yang mampu menggoreskan nama Sawahlunto di ajang internasional. Semoga beliau mampu menginspirasi semua pengusaha rumahan untuk perkembangan industri homestay di Kota Sawahlunto," ungkap Kamsri Benti. (Iyos)
** sumber www.gosumbar.com by Indra Yosef

Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : Februari 04, 2016

23 Desember 2015

Oma Homestay, Sawahlunto, Melayani Tamu Penuh Kekeluargaan

Namanya Hajjah Elfanis atau panggilannya Pong. Namun oleh anak dan cucunya, wanita ini biasa di panggil Oma. Akhirnya nama itulah yang melekat pada usaha homestay yang dijalankannya, Oma Homestay di Tangsi Gunung Air Dingin Kota Sawahlunto Sumatra Barat.
Wanita baya yang murah senyum ini mengajak tamunya ke ruang terbuka di lantai atas rumahnya menghadap bukit-bukit. Lorong terbuka itu masih bisa di isi dengan meja dan kursi untuk duduk-duduk santai di pagi maupun sore hari layaknya sebuah teras.
Menikmati keindahan pemandangan perbukitan dari teras atas Oma homestay memang menyenangkan, kita bisa santai sambil mengobrol atau cukup berdiam diri sambil berzikir mensyukuri kenikmatan berada di atas ketinggian, melihat atap-atap rumah dan perbukitan.
Siang itu Oma memang sibuk menerima tamu para juri dari Kementrian Pariwisata karena Oma Homestay adalah salah satu homestay yang masuk penilaian untuk Penghargaan Homestay 2015. Selain itu, dia juga sibuk mempersiapkan diri menyambut kafilah peserta Musabaqoh Tilawatil Quran ( MTQ) tingkat Sumatra Barat yang diselenggarakan di kota Sawahlunto 8-15 November 2015 dan sebagian kontingen menginap di Oma Homestay.
Itulah sebabnya dari teras atas, Oma langsung memperlihatkan dapur rumahnya yang sudah dipenuhi dengan bahan pangan karena para kafilah peserta MTQ yang akan menginap di homestaynya oleh panitia juga diurus untuk makanan dan minumannya.
Kalau biasanya dalam pelaksanaan MTQ Provinsi Sumbar, para kafilah diinapkan di sekolah-sekolah dengan fasilitas seadanya, maka pada pelaksanaan MTQ 2015 kali ini di Sawahlunto, para kafilah akan menginap di penginapan-penginapan berstandar yaitu di homestay-homestay se Sawahlunto yang dikomandani oleh ibu Kamsri Benty, Ketua Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto.
Oma yang bernaung di bawah Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto benar-benar bersiap diri layaknya seorang nenek yang menunggu kedatangan cucu-cucunya tiba. Para kafilah MTQ yang masih berusia remaja memang seperti usia cucu sendiri. Toples-toples kue di meja tamunya berisi berbagai makanan cemilan untuk menyambut tamu-tamunya layaknya suasana rumah saat Hari Raya Lebaran.
Oma yang bernaung di bawah asosiasi homestay merasakan manfaat yang besar sebagai anggota karena sang ketua, Kamsri Benty, malah kerap mengutamakan homestay milik anggota ketimbang homestay yang dimilikinya. Mereka juga promosi bersama lewat situs-situs pemesanan seperti Traveloka.com dan booking.com. Kerjasama dengan beberapa networking online maka pemesanan homestay dapat dilakukan lebih mudah oleh siapa saja dan dari mana saja.
Saat ini ada sekitar 80 rumah (homestay) di Sawahlunto, dan untuk acara MTQ 40 homestay yang disiapkan dan telah bersertifikasi. Homestay di Sawahlunto juga menjadi percontohan di Indonesia dan sudah mendapat pengakuan nasional dan International. Hal ini karena kota bekas tambang batubara yang mati pada akhir abad ke-20 telah bertransformasi menjadi kota wisata.
Proses melepas identitas kota tambang yang berada sekitar 90 kilometer dari Padang, ibu kota Sumbar itu memang tidak mudah namun banyak pihak menilai keyakinan dan kontribusi dari komitmen Wali Kota Sawahlunto Amran Nur periode tahun 2003-2008 dan 2008– 2013 untuk bertransformasi menjadi kota wisata berhasil mengubah mindset warga.
Sawahlunto yang sejak tahun 1888 memang berjaya lewat tambang dibuat tak berdaya oleh tambang. Batubara yang sekian lama menopang kehidupan masyarakat, habis produksinya pada tahun 1998 sehingga kota praktis lumpuh. Namun setelah pariwisata berkembang maka asset-aset dari tambang justru menjadi icon wisata.
Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di kota itu. Bangunan dan fasilitas sisa pertambangan, dikemas menjadi tujuan wisata. Terwujudlah Museum Goedang Ransoem, Museum Kereta Api, dan Museum Mbah Suro.
Sementara aset nonfisik, yaitu tradisi, menjadi bagian tak terpisahkan. Selain itu, tujuan wisata penunjang juga dibangun, seperti wisata air, pusat kuliner, perkampungan tenun, dan tempat wisata Kandi dengan aneka wahana rekreasi. Keberagaman budaya menjadi aset lain Sawahlunto karena sejak masa kolonial kota sudah dipenuhi tenaga kerja dari luar kota sebagai pekerja tambang.
Tak heran selain etnis Minang, juga ada suku Jawa, Sunda, Batak, Bugis, dan Tionghoa. Masing-masing suku tetap membawa tradisi asal dan meramaikan kota itu dengan tradisi yang dibawa dari daerah asalnya.
Pariwisata kini menjadi matapencaharian warga Sawahlunto seperti yang dilakukan
pasangan Elfanis (72) dan Khairuddin (73), yang mempunyai Homestay Oma. Jika pada 2012 hanya mampu menyediakan 3 kamar tidur kini sudah memiliki 11 kamar dan sebuah ruang rapat ( meeting room).
“Tamu yang datang berombongan membutuhkan ruang pertemuan akhirnya Oma manfaatkan garasi rumah di sulap jadi meeting room,” ujarnya. Berusaha memenuhi kebutuhan tamu dan mengelola homestay dengan hati riang membuat Elfanis setiap hari disibukkan oleh ‘keluarga’ barunya, tamu homestay dari dalam dan luar negri. Dia tidak pernah merasa kesepian meskipun anak dan cucunya tinggal di Jakarta dan kota-kota lainnya.
Ketika akhirnya Oma homestay ini di Hotel Basko, Padang, 6 November 2015 dinobatkan sebagai homestay terbaik di Sumbar yang layak mendapatkan penghargaan utama Apresiasi Usaha Pariwisata Kementrian Pariwisata, Oma Elfanis tetap tenang dan cukup mengekspresikan kebahagiaannya lewat senyum mengembang.
Senyuman yang terus mengembang dan adab menerima tamu yang dilakukan sesuai tuntunan agama yang diyakininya dengan menunjukkan wajah ceria dan sumringah, bertutur kata lemah lembut, menyediakan makan-minum, bersikap hangat dan penuh persahabatan itulah yang menjadi kunci kemenangannya disamping memberikan fasilitas yang bersih dan nyaman.
Dengan kemenangan itu, Oma Elfanis bersiap studi banding homestay ke Thailand pada Januari 2016 untuk lebih mempelajari bagaimana kesepakatan Asean dalam hal pengelolaan homestay bersama pendamping dari Kementrian Pariwisata. Bukan tidak mungkin para pengelola hotel di Thailand juga akan berbondong-bondong datang ke Oma Homestay di Sawahlunto karena kesungguhannya untuk berbagi ilmu. (hildasabri@yahoo.com) disadur dari : bisniswisata.co.id

Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : Desember 23, 2015

13 Desember 2015

Aktifitas Belia Terengganu Malaysia di Homestay Sawahlunto




























Panggun keakraban sekaligus perpisahan pertukaran belia Terengganu Malaysia di Museum Gudang Ransum yang dihadiri Ibu Yenny Halil berlangsung ceria dan gembira. Kegiatan seperti ini akan menjadi modal promosi yang dilakukan Asosiasi-Homestay Sawahlunto untuk memperkenalkan budaya dan kepariwisaaan Kota Sawahlunto. Dukungan dan kepercayaan yang diberikan Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda Dan Olah Raga kepada Asosiasi Homestay Sawahlunto , sangat lah berarti bagi kami. Semoga dimasa yang akan datang, program pertukaran pelajar ini akan membuat Sawahlunto semakin JAYA...!!! Terimakasih kepada Ibu angkat dari asosiasi Homestay yang telah memberikan kenangan indah pada tamu tamu kita dari Malaysia. Terimakasih juga kepada pemuda pemudi dari Sanggar Parmato Hitam yang telah memandu, mendampingi dan menyusun program acara dan kegiatan untuk adik-adik kita ini.

Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : Desember 13, 2015

17 November 2015

Kenangan MTQ XXXVI Homestay Sawahlunto

Berikut adalah beberapa kenangan yang tertangkap kamera saat Asosiasi Homestay Sawahlunto berpartisipasi dalam menyediakan akomodasi untuk khafilah-khafilah MTQ Nasional ke XXXVI Tingkat Sumatera Barat. Ini adalah gebrakan baru dalam pelaksanaan MTQ Tingkat Sumatera Barat, yang mana biasanya khafilah menginap di bangunan sekolah atau sejenisnya, maka pada MTQ kali ini Asosiasi Homestay Sawahlunto membuat pelayanan penginapan dan kebutuhan khafilah selama berada di Sawahlunto dan selama acara MTQ ini berlangsung.















Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : November 17, 2015

14 November 2015

Walikota Ali Yusuf: Pemberdayaan Homestay Jadikan Model Untuk MTQ Selanjutnya

Kalau biasanya dalam pelaksanaan MTQ Provinsi Sumbar, para kafilah diinapkan di sekolah-sekolah dengan fasilitas seadanya,  maka selama pelaksanaan MTQ di Sawahlunto, para kafilah menginap di  penginapan-penginapan yang dikelola oleh masyarakat  yaitu di homestay-homestay se-Sawahlunto.

Pemanfaatan homestay dan rumah-rumah masyarakat tersebut diharapkan akan menjadi model bagi pelaksanaan MTQ seterusnya, demikian yang diungkapkan Walikota Sawahlunto Ali Yusuf saat penutupan MTQ ke 36 di Lapangan Ombilin (14/11).

Lebih lanjut Ali Yusuf membeberkan bahwa selain  sebagai media mendekatkan masyarakat dengan Al Quran, pelaksanaan MTQ ke 36 yang berlangsung di Sawahlunto juga ditujukan untuk mendorong peningkatan perputaran  ekonomi  di tengah masyarakat.

Karena itulah pihaknya selaku panitia tuan rumah mengambil kebijakan yang berbeda dengan pelaksanaan MTQ sebelumnya yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui usaha Homestay.”Dengan kebijakan ini, pendapatan masyarakat bertambah selama MTQ berlangsung” ujar Ali Yusuf.

Semntara Kamsri Benty Ketua Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto memberi apresiasi terhadap kebijakan Pemko ini.  Ia mengatakan antusias masyarakat untuk berpartisipasi mensukseskan MTQ melalui homestay sangat tinggi.

“Ada 80 homestay yang kami siapkan untuk penginapan kontingen.  Khusus selama MTQ kami telah menyepakati  pemberlakuan harga sewa khusus.  Jika  di hari  biasanya kami memberlakukan tarif  Rp 250 ribu perorang dengan fasilitas penginapan + makan 3 kali dan snack 2 kali sehari, maka khusus untuk kontingen MTQ hanya  Rp 110 ribu dengan fasilitas yang sama” ujar Kamsri Benty.

Masing-masing homestay juga menyediakan fasilitas cuci, jemur dan setrika bagi kontingen. Lebih lanjut ketua Asosiasi mengungkapkan bahwa kesepakatan penurunan harga ini diambil pihaknya sebagai bentuk partisipasi masyarakat mensukseskan Sawahlunto sebagai tuan rumah MTQ.

“Sukses MTQ ini nantinya tidak hanya tergantung pada pelaksanaan, tetapi juga pada kepuasan kontingen selama menginap di Sawahlunto, karena itu kami berusaha memberikan pelayanan yang terbaik” ujar Perempuan yang pernah menjadi pembicara pada beberapa iven promosi homestay Internasional ini.

Khusus untuk kontingen MTQ, Asosiasi Homestay juga menggelar acara penyambutan kedatangan kontingen dan member kenang-kenangan berupa medali yang terbuat dari batubara.

Keberadaan homestay-homestay di  Sawahlunto sendiri berawal sejak tahun 2010, saat itu hanya ada beberapa rumah. Seiring tahun berjalan, animo masyarakat semakin besar untuk menjadikan rumahnya sebagai homestay. Saat ini  ada sekitar 55 rumah homestay di Sawahlunto, dan 30 diantaranya telah bersertifikasi.

Bahkan beberapa homestay kami menyediakan fasilitas yang sejajar dengan hotel berbintang, seperti homestay Oma di Tangsi Gunung. Homestay ini  menyediakan  11 kamar tamu, lengkap dengan kamar mandi dalam kamar, televise dan fasilitas lainnya, juga tersedia  meeting room.

Homestay Sawahlunto juga sudah mendapat pengakuan nasional dan  International.  Di tahun 2015 ini mendapat penghargaan sebagai Homestay Terbaik Se-Sumatera Barat dari Kementrian Pariwisata RI. Juga pernah meraih juara 1 competisi penyediaan kuliner ala homestay  di ajang International Homestay Promotion Fair di Malaysia, dan harapan 1 di Bangka Belitung pada ajang yang sama.

Homestay  Sawahlunto juga menjadi percontohan di Indonesia,  dengan dipercaya oleh Kementrian Pariwisata sebagai tuan rumah penyelenggaraan Promosi Homestay Internasional 2 tahun lalu.

Mengembangkan usahanya Asosiasi homestay Sawahlunto telah menjalin kerjasama dengan beberapa networking online seperti Traveloka.com dan booking.com. Dengan kerjasama ini  pemesanan homestay dapat dilakukan lebih mudah  oleh siapa saja dan dari mana saja.

Sementara Rika (35) salah satu warga Tangsi Baru Kelurahan  Tanah Lapang anggota asosiasi homestay Sawahlunto, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Pemko dalam MTQ kali ini. Selain mendapat tambahan pendapatan dari jasa penginapan, Rika mengakui kehadiran para kafilah memberi nuansa yang lebih Islami pada lingkungan.

“Serasa di kota santri, setiap hari kami semakin sering mendengar lantunan ayat suci yang syahdu dari para kafilah yang berlatih. Surau di sekitar lingkungan juga menjadi penuh disetiap waktu sholat oleh jamaah muda maupun tua. Saya harap ini akan motifasi bagi generasi muda Sawahlunto untuk lebih rajin ke Surau” tutur ibu beranak satu itu. **disadur dari (rni)

Posted by: Admin Homestay Homestay Sawahlunto Updated at : November 14, 2015