Feels Like Home...

Satu Hari di Sawahlunto

Padang - Sawahlunto memang tidak sebeken Bukittinggi dalam tujuan wisata di Sumatera Barat. Namun bekas kota tambang ini memiliki magnet bagi para pelancong. Pemerintah Kota Sawahlunto menyulap "rongsokan" bekas peninggalan kota tambang menjadi museum hidup untuk wisata sejarah. Jejak-jejak kota tambang yang dibangun pada pengujung abad ke-19 karena batu bara yang ditemukan Hendrik De Greve ini pun masih nyata. Kota kecil yang menyerupai kuali ini menyuguhkan keindahan arsitektur Indies dan pecinan. Untuk mengamatinya, cukup perlu satu hari saja.

1. Bertemu Mak Itam

Jarak Padang-Sawahlunto sekitar 90 kilometer. Bisa ditempuh dengan bus atau kendaraan pribadi dalam 2,5 jam. Namun bisa juga dengan kereta api, tapi moda ini hanya beroperasi pada hari Minggu. Itu pun dimulai dari Stasiun Padangpanjang pada pukul 08.00. Sedangkan dari Padang ke Padangpanjang perlu waktu 1,5 jam. Karena kecepatan kereta api hanya 40 km per jam, perjalanan Padangpanjang-Sawahlunto sekitar 3 jam. Jalur kereta api melewati Lembah Anai dan Danau Singkarak. Tarif gerbong eksekutif Rp 50 ribu, sedangkan ekonomi Rp 25 ribu.
Bila berangkat pagi hari dari Padang dengan kendaraan roda empat, bisa tiba pagi di Sawahlunto. Bila pagi tak sempat sarapan, sebelum masuk ke Sawahlunto, mampir dulu di Dendeng Batokok Muaro Kalaban. Rumah makan ini terletak 5 kilometer sebelum Sawahlunto, persisnya di Jalan Lintas Sumatera dan persimpangan masuk ke kota. Dendengnya sangat tipis, kering, dan wangi karena dilumuri minyak kelapa buatan tangan. Daging dendeng asap yang sudah berbumbu itu dibakar di atas bara tempurung kelapa, lalu dipipihkan dan dilumuri minyak kelapa sehingga wangi dan menggugah selera. Disajikan dengan sambal cabai merah plus daun singkong serta rebus nasi hangat. Sepotong dendeng ini seharga Rp 7.000.

Sehabis perut terisi, baru saatnya bertemu dengan Mak Itam. Ini tak lain dari nama lokomotif uap di Museum Kereta Api Sawahlunto. Inilah kereta api langka di dunia. Jumlahnya kini hanya lima buah. Lokomotif uap E1060 yang dibuat oleh Esslingen, Jerman, ini menjadi ikon pariwisata Sawahlunto. Dulu beroperasi dari stasiun kereta api yang dibangun pada 1918 ini dengan mengangkut batu bara ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang.

Kereta api dibawa tiga tahun lalu dari Ambarawa. Sebelumnya, loko uap ini memang milik Sawahlunto saat tambang batu bara masih berjaya. Mak Itam hanya digunakan untuk jalur pendek dari Sawahlunto ke Muara Kalaban sejauh 7 kilometer. Kereta mengantar wisatawan menikmati pemandangan "Lubang Kalam" atau terowongan sepanjang 900 meter. Loko berbahan bakar batu bara ini bergandengan dengan gerbong kayu untuk membawa penumpang.

Bila ingin menumpang kereta ini, kita harus pesan jauh hari karena Mak Itam tidak beroperasi setiap hari. Sebelum dijalankan, Mak Itam harus dipanaskan dulu ketel uapnya selama 4 jam. Tarifnya juga cukup mahal karena eksklusif, sekitar Rp1,5 juta sekali jalan untuk sewa satu gerbong.


2. Tur Bangunan Lawas

Setelah melepas kangen di museum kereta api, saatnya berkeliling ke beberapa bangunan lawas. Salah satunya adalah bekas bangunan pembangkit listrik pertama di Sawahlunto yang dibangun pada 1894, yang kini menjadi Masjid Raya Nurul Iman. Tepat di bawah masjid, terdapat bunker yang dulu pernah digunakan sebagai tempat merakit senjata, mortar, dan granat tangan.

Menara masjid setinggi 80 meter. Dulu adalah cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap. Bangunan bersejarah lainnya seperti rumah asisten residen, rumah controlleur Belanda, rumah Pen Sin Kek, yang sekarang menjadi toko suvenir dan coffee shop.

Bangunan menonjol lain adalah gedung megah kantor pertambangan PTBA-UPO dengan halaman yang luas. Gedung bergaya kolonial Belanda itu didirikan pada 1916 dengan nama Ombilin Meinen dan berfungsi sebagai kantor pertambangan hingga sekarang. Hanya berjarak 200 meter, terdapat gedung Pusat Kebudayaan, yang dibangun pada 1910. Dulu dijadikan gedung pertemuan dengan nama "Gluck Auf". Di sini pejabat kolonial berkumpul, berdansa, bernyanyi, sambil menikmati minuman. Kini dijadikan tempat untuk pentas seni dan pameran lukisan.

Satu-satunya penginapan di sini adalah Hotel Ombilin, dulu dikenal sebagai Ombilin Hotel dan dibangun pada 1918. Ingin lebih merasakan suasana tempo dulu, Anda bisa pilih guest house yang terpisah dari bangunan hotel. Dulu merupakan rumah petinggi Belanda. Tarifnya sekitar Rp 450 ribu per malam. Dari sini sebagian Kota Sawahlunto bisa terlihat. Bangunan lawas lain adalah gedung koperasi PTBA, yang didirikan pada 1920. Pada masa silam, bangunan ini merupakan gedung Koperasi Ons Belang, yakni koperasi bagi orang-orang Eropa dan Indo Eropa. Ada juga gedung Sekolah Dasar Santa Lucia yang masih kokoh, yang didirikan pada 1920.

Kejayaan tambang batu bara Sawahlunto juga terlihat di bangunan silo yang masih berdiri kokoh di kawasan Saringan. Silo ini berbentuk tiga silinder besar yang berfungsi sebagai penimbun batu bara yang telah dibersihkan dan siap diangkut ke Pelabuhan Teluk Bayur. Setiap hari sirene silo berbunyi tiga kali, yakni pukul 07.00, 13.00, dan 16.00. Suara nyaring itu penanda jam kerja "orang rantai"-pekerja paksa di tambang batu bara.


3. Lubang Tambang Mbah Suro

Ini lubang tambang pertama di Sawahlunto, yang dibangun pada 1896 oleh orang rantai, yang dipimpin seorang mandor bernama Suro. Terowongan bekas penambangan dipugar dan dijadikan museum tambang batu bara. Pengunjung bisa masuk ke dalamnya dan merasakan suasana bekas lorong penambangan batu bara. Panjang terowongan ini ratusan meter, tapi baru 186 meter yang dipugar, dibersihkan, dan diberi blower udara untuk menambah udara serta dilengkapi kamera pengintai (CCTV) yang dipantau petugas di gedung Info Box.

Lebar lubang tambang ini 2 meter dengan ketinggian 2 meter. Dulu lorong ini digunakan untuk mengangkut batu bara dari penambangan di bawah Kota Sawahlunto. Dinding lorong terlihat hitam berkilat karena masih mengandung batu bara kualitas super, yaitu 6.000 hingga 7.000 kalori. Sebelum 1930, Belanda menutup lubang ini karena dekatnya lubang tambang dengan Sungai Lunto, yang mengakibatkan derasnya rembesan air.

Ketika lubang tambang ini dibuka, butuh 22 hari untuk menyedot air dalam terowongan. Lorong ini bahkan bisa tembus hingga pusat pembangkit listrik tenaga uap, yang kini menjadi Masjid Raya, yang berjarak 900 meter. Namun baru dipugar 186 meter dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah.


4. Museum Gudang Ransum

Bangunan Museum Gudang Ransum didirikan pada 1918 dan berfungsi sebagai dapur umum tempat memasak makanan serta memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang dan rumah sakit Sawahlunto, yang berjumlah ribuan orang. Bangunannya terdiri atas dapur umum, gudang es, gudang makanan mentah, gudang beras, menara asap, dan power strom.

Ada tiga bangunan besar, dua di antaranya berfungsi sebagai gudang ransum atau tempat makan ribuan kuli tambang, termasuk orang rantai. Para pekerja tambang ini berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Satu bangunan lain berfungsi sebagai dapur umum atau tempat memasak. Setiap hari pada masa itu dimasak 65 pikul beras atau hampir 4.000 kilogram beras. Sistem memasak juga dengan menggunakan tekanan uap yang dialirkan melalui pipa-pipa besar di bawah dapur.

Di museum ini terdapat peralatan masak superbesar, foto-foto lama yang menggambarkan suasana di zaman penambangan batu bara oleh Belanda, pekerja tambang, dan orang rantai. Juga batu nisan orang rantai yang hanya ditulisi angka.

Tur di Sawahlunto bisa selesai pada sore hari, pulang bisa mampir kembali ke Dendeng Batokok Muaro Kalaban untuk membeli dendeng sebagai oleh-oleh. Atau ingin oleh-oleh yang tahan lama? Silakan singgah ke toko-toko di kanan-kiri Jalan Raya D.I. Silungkang, yang terletak persis di Jalan Lintas Sumatera, sekitar 20 kilometer dari Sawahlunto. Tempat ini dikenal sebagai penghasil kerajinan songket atau kain sarung yang ditenun. Harga tenun songket Silungkang berkisar Rp 300-400 ribu. Kalau songket yang balapak atau songket yang penuh benang emas bisa sampai Rp 2 juta.