Feels Like Home...

Sawahlunto Bangkit dari Kematian

Kota Sawahlunto, dulu dikenal sebagai kota penghasil batubara terbesar di Indonesia. Potensi cadangan batu bara yang sangat besar di kawasan sekitar Sungai Ombilin itu pertama kali ditemukan oleh geolog asal Belanda, William Hendrik De Greve, pada 1868 dan mulai dilakukan penambangan sejak 1891.
Setelah sekitar 110 tahun dieksploitasi, sejak 2000/2001 cadangan batu bara terbuka di Sawahlunto telah habis dan PT Bukit Asam sudah menghentikan kegiatannya di kota yang dijuluki “Kota Kuali” karena lokasinya berada di bawah dan dikelilingi perbukitan itu.
Akibatnya, sekitar 7.000 orang yang merupakan karyawan pertambangan beserta keluarganya meninggalkan Kota Sawahlunto karena tidak ada lagi mata pencaharian atau usaha yang bisa mereka kerjakan, sehingga sejak itu kota tambang bersejarah peninggalan zaman penjajahan Belanda itu terancam menjadi “kota mati”.
Walikota Sawahlunto, Amran Nur, mengatakan, pada 2000 sampai 2004 menjadi masa-masa tersulit bagi Sawahlunto karena tambang terbuka PT Bukit Asam berhenti, yang disusul penurunan drastis jumlah penduduk.

Pada masa itu, katanya, kegiatan penambangan batu bara tanpa izin sangat banyak, dan secara umum Sawahlunto saat itu memiliki angka kriminalitas tinggi, ketertiban umum terganggu, lingkungan serta sarana umum rusak akibat kegiatan penambangan tanpa izin.
“Pertumbuhan ekonomi Kota Sawahlunto pada periode 2000-2003 negatif, yang terlihat dari berkurangnya aktivitas ekonomi di seluruh sektor seperti perdagangan, industri, usaha kecil menengah (UKM), pariwisata, jasa dan lain-lain,” kata Amran Nur menceritakan pengalamannya membangun kembali Sawahlunto.
Menurut Amran yang men jabat sejak 2003 itu, ada sekitar 100 bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai sejarah tinggi seperti terowongan bekas penambangan, lokasi luas bekas penambangan terbuka, serta rel dan kereta api pengangkut batu bara. Dengan aset bersejarah itu, katanya, Kota Sawahlunto sejak beberapa tahun terakhir berbenah diri menjadi “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”.
“Dengan aset peninggalan itu, kita lebih menghayati arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Apalagi yang bekerja di tambang batu bara waktu itu adalah orang-orang hukuman, yang disebut sebagai ‘orang rantai’ yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Sisa-sisa peninggalan zaman penjajahan Belanda masih jelas terlihat di sini,” kata Amran yang menjabat Wali kota Sawahlunto untuk periode kedua sejak 2008 itu.
Hal itulah yang menjadi inspirasi untuk merenovasi sejumlah bangunan peninggalan Belanda untuk dijadikan obyek wisata andalan bekas Kota Arang (Batubara) itu.
Sejumlah bangunan kuno di “Zona Kota Lama” atau di pusat Kota Sawahlunto mulai direnovasi. Salah satunya adalah Stasiun Sawahlunto yang kini dijadikan Museum Kereta Api Sawahlunto, yang merupakan museum kereta api kedua di Indonesia setelah Ambarawa di Jawa Tengah. Jalur KA di sana dibangun oleh Belanda pada tahun 1892 dari Sawahlunto menuju ke Pelabuhan Teluk Bayur (dahulu bernama Emmahaven) Padang untuk mengangkut batu bara.

Museum KA Sawahlunto kini juga menyimpan lokomotif uap tua peninggalan Belanda yang oleh masyarakat setempat dinamakan Mak Itam (karena berwarna hitam-red). Lokomotif itu sempat berada di Museum KA Ambarawa sebelum diambil kembali oleh Pemerintah Kota Sawahlunto.

Bangunan dapur umum yang dulu dibangun penjajah Belanda pada 1918 untuk menyuplai makanan bagi para penambang batubara (orang rantai) dan pasien rumah sakit, kini juga sudah direnovasi menjadi Museum Goedang Ransoem yang antara lain menyimpan sejumlah peralatan masak seperti dua tungku pembakaran berikut dua kuali berukuran raksasa yang masih utuh dan berumur lebih dari 100 tahun.

Sedangkan bekas terowongan penambangan batubara pertama di Sawahlunto, yang beroperasi pada 1898 hingga ditutup pada 1932 karena tingginya rembesan air, juga telah direnovasi pada 2007 sepanjang 186 meter.

Menurut juru kunci sekaligus “guide” (pemandu) Lubang Mbah Soero, Wilizon, yang biasa disapa Pak Win, terowongan itu diresmikan pada 28 April 2008, dan diberi nama “Wisata Lubang Tambang Mbah Soero”.
Nama Mbah Soero, kata Pak Win, diambil dari nama mandor pertambangan masa penjajahan Belanda bernama Soero yang sangat disegani oleh para buruh dan warga sekitar.

Di dekat lokasi lubang tambang itu, bekas Gedung Pertemuan Buruh (GPB) Perusahaan Tambang Batu bara Ombilin yang dibangun pada 1947 disulap menjadi Info Box (Galeri Tambang) yang berisi berbagai informasi kepariwisataan di Sawahlunto.

Di wilayah utara Sawahlunto, kawasan bekas tambang terbuka kini juga telah dijadikan Wisata Resort Kandih yang antara lain berisi taman satwa, road race standar nasional, gelanggang pacuan kuda berstandar nasional, wisata air, bumi perkemahan, sirkuit motor cross, skala nasional. Sedangkan di wilayah selatan, Pemerintah Kota Sawahlunto juga membangun Waterboom pertama di Sumatra Barat.

Motor penggerak
Amran Nur mengatakan, pengembangan sektor pariwisata di kota bersejarah itu mampu menjadi motor penggerak sektor lain seperti jasa, perdagangan, restoran, dan hasil kerajinan masyarakat setempat.
Menurut dia, sektor pariwisata menjadi perhatian Sawahlunto. Banyaknya wisatawan yang datang, lanjutnya, telah mampu menggairahkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sektor lainnya seperti sektor pendidikan serta pengembangan ekonomi kerakyatan di bidang pertanian, perkebunan, dan UKM.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, pada 2004 jumlah wisatawan ke Sawahlunto hanya sekitar 14.425 orang, namun pada 2010 meningkat menjadi 645.020 orang. Banyaknya wisatawan yang datang ke Sawahlunto, katanya, telah menggairahkan pertumbuhan sektor lainnya seperti kerajinan tenun songket, restoran dan menginspirasi berdirinya sebuah hotel pada 2011,
Kini, katanya, pendapatan perkapita masyarakat Sawahlunto yang berpenduduk sekitar 57 juta jiwa itu juga telah meningkat dari Rp9,88 juta per tahun per orang pada 2003 menjadi Rp18,93 juta per tahun per orang pada 2010.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumbar, dengan angka itu, Sawahlunto menduduki posisi nomor tiga tertinggi di Provinsi Sumatera Barat dan berada di atas rata-rata pendapatan perkapita provinsi itu. “Pada 2013 kami proyeksikan meningkat menjadi Rp26,43 juta per tahun per orang,” kata Amran Nur.
Pemerintah Sawahlunto juga sangat memperhatikan sumber daya manusia masyarakat setempat melalui sektor pendidikan yang berkualitas, termasuk penguatan kemampuan berbahasa Inggris. Pada 2010, jumlah siswa SLTA yang diterima di perguruan tinggi negeri mencapai 222 siswa, atau jauh meningkat dibanding pada 2006 yang hanya 39 siswa.

Di sektor kesehatan, kata Amran Nur, sekitar 82 persen warga Sawahlunto kini telah terjamin melalui berbagai asuransi kesehatan, yang bekerja sama dengan beberapa rumah sakit seperti RSU Solok dan RSUP M Jamil Padang.

“Telah terjadi perubahan perilaku masyarakat yang semula apatis terhadap pemerintah dan kegiatan pembangunan menjadi mendukung dan menjaga kegiatan pembangunan dan investasi di bidang pariwisata mulai berjalan,” katanya.

Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Sawahlunto dibawah kepemimpinan Amran Nur telah membuahkan hasil dan pada 2010 Pemerintah Kota Sawahlunto masuk dalam 30 daerah yang menjadi nominator penerima penghargaan Innovative Government Award (IGA) yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.

Keberhasilan Pemerintah Kota Sawahlunto itu pulalah yang nampaknya menjadi pertimbangan pemerintah pusat menjadikan Sawahlunto sebagai salah satu tuan rumah penyelenggaraan Orientasi Kepemimpinan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2011 bagi bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota.
Enam peserta orientasi, yakni Wakil Bupati Wonosobo, Hj Maya Rosida, Wakil Wali Kota Sleman, Yuni Satia Rahayu, Bupati Kepulauan Meranti, Irwan, Bupati Manggarai Barat, Agustinus CH Dula, Wakil Bupati Blitar, Rijanto, dan Wakil Bupati Sumenep, Soengkono Sidik, pada 4-5 April 2011, mengunjungi Sawahlunto untuk menimba ilmu dari kota kecil seluas 273,45 km persegi tersebut.Wakil Bupati Sumenep, Soengkono Sidik, mengatakan, topik yang ingin diangkat adalah bagaimana kiat-kiat meningkatkan ekonomi kerakyatan.
“Kami ingin belajar dari Sawahlunto, bagaimana membangun atau menghidupkan kota yang sebelumnya hampir menjadi ‘kota mati’, hingga menjadi kota yang kembali segar bugar dan lebih maju,” kata Soengkono Sidik.